Endang Artiati Suhesti - guru BK dan penulis buku 77 Games Berkarakter dalam Bimbingan dan Konseling

Seorang guru bimbingan dan konseling dan penulis buku Bagaimana Konselor Sekolah Bersikap? , 77 games berkarakter dalam bimbingan dan konseling dan sejumlah art...

Selengkapnya

Janji di atas IUD

Sah, dilunasi tanggal 2 Maret 2018. Ada perasaan lega dalam hati kecilku. Betapa tidak, aku sudah melunasi hutang janjiku untuk mencopot iud yang telah dipasang selama empat tahun lamanya.

Suamiku menginginkan menambah momongan. Ia gundah dengan umurku yang semakin bertambah. "Beresiko untuk kaum hawa", katanya.

Ya aku paham dengan itu semua, tapi ada pikiran lain yang berkecamuk. Kalo nambah, nanti anak sulung bagaimana. Dia masih butuh kasih sayang dan masih butuh pendampingan. Aku belum tega, sebab si sulung belum genap 5 tahun.paling tidak nunggu si sulung bisa mandiri dan syukur syukur sudah bersekolah.

Namun tetap saja, suamiku gigih untuk meminta copot iud. Alasan suamiku hanyasatu. Usia. Aku tetap berkilah lagi, dengan alasan lain, " nantilah kalau sudah jadi guru bersertifikasi" berharap bisa mengulur waktu.

Tahun 2017, Alhamdulillah mulai bulan Januari aku bisa merasakan menjadi guru bersertifikasi. Dan suamiku menagih janjiku. Aku bilang, "iya tunggu lah, buku juga belum terbit. Nunggu kepastian terbitnya dulu dunk" ya ada saja alasan yang aku utarakan kepada suamiku.

Tahun 2017 memang ada harapan naskah bukuku akan diterbitkan oleh salah satu penerbit mayor di Bandung. Aku menanti dengan sabar sedikit cemas, sebab tidak hanya minggu tetapi dari bulan ke bulan.

Suamiku menanyakan lagi kapan copot iudnya. "Tunggulah"

Saat aku pulang ke kampung halaman ku, tiba tiba aku pengen memberi kejutan pada suamiku. "Aku akan copot iud" lalu dengan segenap kepedeanku, aku bertandang ke rumah bidan senior di kampung halaman.

"Bu mau copot IUD, mau program lagi Bu, karena umur udah tiga lima" ungkapku kepada sang bidan.

Dengan basa basi sebentar, bidan tersebut mempersilahkan aku masuk ke kamar tindakan.

Tegang jelaslah..dan itu mempengaruhi tindakan bidan kepadaku.

"Mbak jangan tegang mbak"

Aku mulai merasakan alat alat masuk ke dalam.mulut rahimku.dan mulailah proses pengambilan iud. Rasa ngilu mulai kurasakan. Kutahan dengan meringis sambil menahan malu.

Ada mungkin lima belas menit berlalu, sang bidan tidak bisa jua berhasil melepaskan iud. Nyerah.

"Mba bulan depan kembali lagi ya pas menstruasi hari kelima. IUD nya tidak kelihatan", terang Bu bidan kepadaku.

" ya Bu " jawabku lirih sambil tersenyum. Pamitlah aku setelah membayar biaya sebesar tiga puluh ribu rupiah.

Di luar, aku langsung WA suamiku

"Aku sudah ke bidan. Copot IUD. Tapi tidak berhasil hikks" ku kirimkan sambil kutambahkan foto kwitansi pembayaran.

Ya sejak itu, rasa takut menyelubungi hatiku. Tiap kali suamiku menanyakan kapan copot iud. Aku jawab " aku mau copot tapi aku maunya dibius jadi tidak merasa alat kayak obeng masuk ke dalam"

Dan sejak itu pula, tiap bertemu dengan teman, tema copot iud selalu ada. Bagaimana caranya, dimana enaknya dan ditambah bumbu-bumbu pembicaraan yang lainnya.

Asal tahu saja, salah satu cara untuk mengatasi rasa takut adalah mendekatkan diri dengan tema.sejauh ini aku coba untuk selalu membicarakan tema IUD, IUD dan IUD..

Tahun berhantu 2018, di bulan Januari aku dipanggil temen ku untuk membantu mengisi materi kegiatan perkumpulan MGBK. Jarak lintas kota kutempuh.di sana sekaligus reuni kecil dengan dua orang temen kuliahku. Satu diantaranya yang memintaku datang dan satu lainnya adalah Fitri, temen kuliahku yang baru saja melahirkan.

Agak lama terlibat pembicaraan dengan Fitri, dan diantara pembicaraan itu adalah IUD. Ya Sekali lagi IUD. Aku bilang jujur, "takut fit..takut plus malu. Mending kalau dibius. Lha pas Masang juga nggak ngerasain, kan waktu itu sesar dan masih dibius jadi tidak terasa apa-apa.

Minggu pagi, temenku dari luar kota datang, niatnya mau mampir barter buku dan pembicaraan juga sekali lagi IUD muncul.

" Cari bidan yang seneng ngobrol. Aku copot IUDnya juga di bidan yang seneng ngobrol. Nggak saki kok" ungkap temenku kepadaku.

Bulan Februari, aku coba lagi untuk memenuhi janjiku. Aku ke bidan terdekat di seberang rumahku yang berbatas jalan nasional. Aku ke sana bersama suami dan anakku.

Tak ada bidan, hanya assisten nya.

"Ibu baru ke Bali, pulang seminggu lagi. Copot IUD bisa mbak, atau mau di USG dulu. Kalo di USG dulu hari Jum'at mbak, malah ada dokternya juga"

Sang assiten memberi dukungan yang positif saat aku sampaikan rasatakut. "Udah Bu jangan dipikir"

Jumat pun datang. Aku siap siap untuk ke bidan lagi. Aku bawa anakku tanpa suamiku.

Jam empat lebih aku sampai. Ternyata disana banyak pasien berbadan dua. Rasa takut mulai merayap. Satu jam dua jam, sang dokter belum datang. Terlambat. Terjebak macet.

Sampai jam enam, dokter baru aja dateng.

"Lho cowok ya dokter nya" batinku. Waduh..

Adzan Maghrib berkumandang. Aku gelisah, si kecil juga.. Saat itulah aku berpikir bagaimana ini, siapa yang ngejaga anaku kalo aku masuk kamar tindakan. Padahal udah malem dan akhirnya aku putuskan pulang tanpa pamit.

Sampai di rumah sudah ada SMS dan panggilan tak terjawab.

"Bu, ini dokter nya sudah datang", bunyi SMS assiten bidan.

Aku jawab " maaf mbak anaku rewel."

Ya singkat kata, tahap kedua untuk mencoba memenuhi janji gagal maning.

Bulan Maret tiba. Anaku genap 4 tahun tanggal tujuh Maret nanti. Bapakku ulangtahun tanggal tiga Maret. Dan aku sedang datang bulan. Hari Jumat menstruasi, masih agak banyak walaupun sudah hari kelima. Cuaca cerah sampai sore.

Aku putuskan untuk ke bidan lagi bersama anaku. Mandi dulu, bawa bekal susu kotak dan air, celana juga trus bawa HP juga. Dateng ke bidan udah mandi, jam lima lebih sampai. Di sana tidak terlalu banyak pasien, perasaan lebih pede. Dan aku lihat Bu bidan juga ada. Ya awak yang baik. Hati ini agak tenang.

Sampai pemanggilan pasien, aku masih ada. Saat itu juga langsung ide muncul. Begitu aku dipanggil masuk, aku bilang sama si kecil " ibu periksa dulu ya, mas Fatih main dulu pakai HP ya, diem aja ya tunggu ibu"

Akhirnya aku masuk ke kamar tindakan dan kisah seterusnya ada pada tulisan IUDku yang aku upload tanggal 2 Maret 2018

DISCLAIMER
Konten pada website ini merupakan konten yang di tulis oleh user. Tanggung jawab isi adalah sepenuhnya oleh user/penulis. Pihak pengelola web tidak memiliki tanggung jawab apapun atas hal hal yang dapat ditimbulkan dari penerbitan artikel di website ini, namun setiap orang bisa mengirimkan surat aduan yang akan ditindak lanjuti oleh pengelola sebaik mungkin. Pengelola website berhak untuk membatalkan penayangan artikel, penghapusan artikel hingga penonaktifan akun penulis bila terdapat konten yang tidak seharusnya ditayangkan di web ini.

Komentar

Bergabung bersama komunitas Guru Menulis terbesar di Indonesia!

Menulis artikel, berkomentar, follow user hingga menerbitkan buku

Mendaftar Masuk     Lain Kali